Movie Review : Wedding Dress ( 2011 )

12 Oct
WEDDING DRESS
 A TEARJERKING DRAMA ABOUT A MOTHER AND A DAUGHTER
Director : Kwon Hyeong-Jin
Screenplay : Yoo Yeong-ah
Cast: Song Yoon-ah, Kim hyang-ki, Kim Myeong-Gook, Jeon Mi seon, Kim-Yeo Jin, Kim Ye-Ryeong.
Gue sekarang curiga sama motif adek gue yang dari kemaren ngajakin gue nonton bareng koleksi-koleksi filmnya. Entah ya, apa emang dia cuma kepengen menikmati ladies night bareng ama gue, atau sebenernya dia sedang berusaha ‘mengobati’ gue yang memang mulai ‘sakit’ dengan hobi baru gue akan film-film depresif yang segmented. Setelah beradu argumentasi antara 50/50, Something Borrowed, sampai Bride Wars (dan pendapat gue untuk nonton ulang Wanted atau Saving Private Ryan ditolak mentah-mentah), akhirnya dengan santainya dia nyetel sebuah film drama korea dan sukses membuat gue mewek dari tengah film sampe ending. Hebat kan? Separah dan sesakit apa sih filmnya sampe bikin gue nangis termehek-mehek?Hiduplah seorang single mother dan designer baju pengantin, Go-eun (Song Yoon-ah) dengan putri semata wayangnya So-ra (Kim Hyang-gil). Go-eun ini bukanlah tipe ibu idaman. Dia tidak bisa memasak, slengean, dan juga kekanakan. Kebalikan dengan So-ra yang terlihat dewasa dan mandiri namun mengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder), yang membuatnya tidak mau berbagi makanan dengan teman-temannya sehingga akhirnya dia dikucilkan. Go-eun ternyata mengidap kanker mematikan dan waktu hidupnya hanya tinggal sebentar. Dan dengan waktu yang hanya sebentar itulah, dia berusaha untuk memenuhi harapan So-ra, tanpa menyadari bahwa So-ra juga diam-diam memenuhi harapan terakhir ibunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standar ya? Emang, standar banget. Sepuluh menit dan gue udah tau bakalan seperti apa jalan ceritanya dan endingnya kayak apa. Toh itu tidak menghentikan banjir air mata yang dengan sesuka hatinyanya turun mengalir dari mata gue. Film yang bagus, mau sestandar apapun jalan ceritanya, tapi dengan akting menawan, akan selalu bagus, mau ditonton kapan pun juga. Ini yang terjadi sama Wedding Dress. Dan ya, film ini gak akan sesedih dan se-stand out ini tanpa akting menawan dari Kim Hyang-gil sebagai So-ra, gadis cilik yang begitu tabah tanpa kehilangan sisi polos dalam dirinya. Tatapan matanya yang polos dengan pipinya yang tembem…She’s a next big thing!

Dan emang ya, Korea Selatan bener-bener menggila. Mereka benar-benar capable dalam membuat film drama. Ga pernah tanggung. Tapi toh tidak lantas menjadi sebuah film cengeng dan menye-menye ala sinetron Indonesia. Semua dramatisasinya begitu elegan dan smooth. Walo gue merasa ada banyak scene yang terasa dipanjang-panjangkan (demi memaksimalkan air mata yang keluar) tapi toh tetap saja, Wedding Dress melakukan tugasnya dengan baik : membuat hati trenyuh.

Udah lumayan lama juga gue ga nonton film yang begitu related sama kehidupan gue. Terakhir adalah 500 Days of Summer dan Drive (walau Drive jatohnya jadi salah satu fantasi liar gue aja. Sejak kapan sih ada tetangga ganteng yang rela dan mau ngegetokkin palu ke kepala mantan gue? Oh wait, ini kenapa mendadak gue jadi curhat?). As a single mother, gue bener-bener bisa ngerasain perasaan Go-eun yang ingin mewujudkan keinginan So-ra. Dan gue bener-bener bisa related sama So-ra yang tidak menginginkan apapun, kecuali ibunya selalu berada di sampingnya. Dan di titik inilah gue menangis, like a baby. Because So-ra is just like my daughter, Aimee. And right now, at this time, gue cuma bisa menangis dan memeluk bantal, berharap bantal itu adalah anak-anak gue. Karena terkadang harapan kekanakan dan sederhana “Ingin terus selalu bersama ibu selamanya” justru adalah harapan yang paling sulit diwujudkan. So yea, jangan tertipu sama judulnya. Wedding Dress is a highly strong recommended tearjerking drama about mother and daughter bound. Find and watch the movie. And then cry and hug your mother or your children. Because you’ll never know when deaths coming.

And now, I’m about to cry again.

REQUIEM FOR A DREAM

12 Oct

REQUIEM FOR A DREAM
DEFINED THE MEANING OF ADDICTION

Director : Darren Aronofsky
Screenplay : Darren Aronofsky and Hubert Selby Jr. based on novel Requiem of a Dream by Hubert Selby Jr.
Cast: Elien Burstyn, Jared Leto, Jennifer Connely, Marlon Wayans

Semuanya berawal ketika gue mulai mendengarkan musik 30 Seconds to Mars, yang digawangi oleh Jared Leto. Menurut gue, 30 Seconds to Mars adalah satu dari sedikit band rock terbaik di generasi gue. Dan Jared Leto, mau diapain juga model rambutnya, adalah salah satu pria dengan ketampanan yang gak manusiawi. Sebagai orang yang mengaku sangat menyukai film, gue merasa sangat bodoh karena lebih mengenal Leto sebagai seorang musisi dibandingkan dengan sebagai seorang aktor. Ya, Jared Leto juga seorang aktor (dan mantan pacar Cameron Diaz, by the way, seolah berita ini super penting). Dan setelah bertanya ke banyak sumber terpercaya, Requiem of a Dream ada di dalam wajib tonton gue.

Di sudut kota New York, hiduplah seorang wanita paruh baya bernama Rose Goldfarb (Burstyn) yang sangat terobsesi dengan sebuah acara televisi. Hidupnya menjadi sangat berwarna ketika dia mendapat telepon yang memberitahunya bahwa dia akan muncul di acara tersebut. Masalah kemudian timbul ketika dia ingin menurunkan berat badannya, demi bisa memakai gaun merah kesukaannya di acara tersebut. Di sisi lain ada Harry (Leto), anak satu-satunya Rose yang bermimpi untuk bisa sukses bersama dengan kekasihnya Marion Silver (Connelly) dan Tyrone (Wayans) dengan cara berjualan heroin. Darisini, kita disuguhi realitas dan arti baru dari kecanduan.

Kecanduan, menurut KBBI adalah kejangkitan suatu kegemaran sehingga melupakan hal-hal lain. Hal ini yang begitu gamblang divisualisasikan oleh Aronofsky. Setelah gue ikut tenggelam dalam menelaah batas antara fantasi dan kenyataan di Black Swan, ini adalah pengalaman kedua gue. Aronofsky punya kemampuan untuk membuat sisi gelap manusia terlihat begitu menarik untuk diikuti, tidak peduli seberapa menakutkannya itu. Mungkin memang bukan kesukaan banyak orang, tapi setelah lo sudah terpikat dengan film-film sejenis ini, lo ga akan bisa menolak buat nonton. Gue terutama sangat suka sama dengan short shot ke arah wajah keempat tokohnya. Juga dengan scene-scene yang dengan sengaja dipercepat maupun diperlambat dan warna-warna yang dipakai untuk mempertegas keadaan dari keempat tokoh utama. Plus score musiknya. Mencengangkan. Dan juga membius, membuat gue tidak bisa berhenti menatap layar. Gue bahkan gak tau mau berkomentar apaan lagi.

Dari segi akting, walau awalnya gue menonton film ini karena alasan Jared Leto, tapi bintang utama dari film ini justru Elien Burstyn. Sebagai Rose, dia dengan sangat cemerlang memerankan seorang sosok janda paruh baya yang kesepian tanpa suami dan anaknya yang sibuk sendiri, ketika tujuan hidupnya hanyalah sesederhana bisa mengenakan gaun merahnya. Kegilaannya, kecintaannya terhadap makanan yang kemudian berubah menjadi rasa takut, tentu bukan akting yang mudah. Terbukti dari nominasi best actress dari Academy Award dan Golden Globe. Dan buat yang udah nonton pasti akan mengerti kenapa gue berkomentar seperti ini. Begitu juga dengan akting Leto, yang begitu meyakinkan sebagai seorang junkie. Mengingat Aronofsky sendiri yang meminta Leto dan Wayans untuk berpuasa gula dan seks selama sebulan demi mengerti dan mendalami perasaan sakaw itu sendiri. Bukan pengalaman menonton yang menyenangkan, tentu, since this one is tough, but it’s blown your mind, sampai ke titik yang gak gue duga sebelumnya.

Mungkin ada banyak film yang berkisah mengenai kecanduan, dengan begitu banyak aspek yang menjadi sudut pandang utamanya. Tapi Requiem of a Dream menawarkan sisi yang begitu gelap namun mengundang (emang, yang ‘gelap’ itu selalu lebih menarik!). Kisah mengenai Harry-Marion-Tyrone mungkin adalah kisah klasik yang banyak diangkat di film-film lain, namun tambahkan dengan kisah kecanduan Rose, Requiem of a Dream menjelma menjadi salah satu paling berbahaya, disturbing, depressing, namun brilian. Kecanduan yang divisualisasikan oleh Aronofsky seolah menampar gue. Tidakkah gue juga begitu, dalam artian yang lain? It is chilled my spine, not in a good way. So yes, I’ve warned you, buat yang gak suka dengan tema film seperti ini, don’t waste your time, karena perasaan setelah nontonnya yang bener-bener tidak menyenangkan. Percaya deh, hahaha.

Dalam hidup kita, sadar maupun tidak sadar, kita semua terpasung dalam kecanduan kita sendiri. Ada begitu banyak jenis penghambaan terhadap banyak hal, yang membuat kita lupa akan hal-hal lain, mau kadarnya kecil maupun besar. Jangan sampai kita menjadi berakhir seperti Rose ataupun Harry, menjadi terlalu masuk ke dalam dunia yang sibuk kita ciptakan tanpa menoleh ke arah manapun untuk sekedar meminta pertolongan. We all have our own addiction. To the technology, to the food, to sex, or even to Fassbender. Mine is addicted to an empty hope. But after re-thinking it again, don’t we all like that?

And now I’m scared to death.

Movie Review : Test Pack : Be My Baby –> A HEART-WARMING WITHOUT BEING TOO OVER DRAMATIZE

16 Sep

Test Pack : Be My Baby

 

Director                :  Monty Tiwa

Screenplay          : Adhitya Mulya

Cast                          : Reza Rahardian, Acha Septriasah, Renata Kusmanto, Dwi Sasono, Oon Project P, Ulil Herdiansyah, H. Jaja Miharja, Meriam Bellina, Gading Marten, Agung Hercules

 

Berbahagialah pecinta film Indonesia tahun ini, bioskop kita, walau masih ada beberapa film bergenre horror-porno yang berita skandalnya jauh lebih bisa dinikmati dibandingkan dengan filmnya sendiri (even gue sendiri gak mau menyebutnya film), namun genre-genre film lain mulai menggeliat. Dan yang gue bicarakan disini bukan hanya dari segi pendapatan box-office, namun dari segi genrenya yang lumayan beragam, juga dari segi kualitasnya, yang semakin lama semakin membaik. Dan salah satu yang terbaik tahun ini adalah sebuah film bergenre drama-komedi berjudul Testpack.

Diangkat dari novel karya Ninit Yunita yang sudah terbit sejak tahun 2005, Test Pack bercerita mengenai sepasang suami-istri bernama Rahmat (Rahardian) dan Tata (Septriasah) yang sudah menikah dan bahagia selama 7 tahun, namun masih belum juga dikaruniai anak. Sudah berbagai macam cara mereka lakukan demi mendapat sang buah hati, dari mulai sistem kalender sampai ke proses invitro (bayi tabung), namun selalu saja gagal. Di sisi kota yang lain ada Shanti (Kusmanto), seorang model terkenal yang akan diceraikan sang suami, Heru (Sasono) karena dia tidak bisa memberikan keturunan bagi keluarga besar sang suami. Darisinilah kemudian, kisah mereka bertemu dan saling bertabrakan. Sebuah potret yang cukup membuat hati miris di tengah banyaknya berita aborsi dan pembuangan bayi.

First of all, gue bahkan sadar ini adalah film Indonesia. Dan gue memang sudah sangat siap untuk melihat sebuah dramatisasi ala sinetron yang nampaknya memang sulit dilepaskan dari kategori film-film drama kita. Dan gue akhirnya dibuat tercengang, karena tidak sekalipun ada drama lebay ala sinetron. Semuanya, sejak awal film sampai ending, begitu mengalir dengan smooth dan believable. Semua aspek dari filmnya super duper keren. Soundtracknya yang mendukung. Lokasi dari semua scene, dari bar, klinik, sampai ke rumah plus segala printilan-printilannya detail banget. Rumah tempat Rahmat-Tata atmosfernya begitu homey, seolah memang mereka adalah pasangan suami-istri nyata yang tinggal di rumah yang nyata dan kita diperbolehkan untuk mengintip seperti apa kehidupan mereka sehari-hari.

Dari segi akting, tanpa perlu berbasa-basi, kayaknya udah tahu semua lah ya, Reza Rahardian adalah ujung tombak dari film ini. Mimik wajahnya begitu natural. Bahkan, dengan jajaran komedian yang sengaja ditaruh untuk memberikan sentuhan komedi seperti misalnya Oon Project Pop, Jaja Miharja, sampai Agung Herkules, scene paling hilarious justru datang dari gerak-gerik Reza yang begitu alami seolah dia berperan sebagai dirinya sendiri. When he smiled, when he cried, hati kita mau gak mau ikut trenyuh dan berseri-seri. Reza Rahardian membuat karakter Rahmat begitu hidup dan nyata. And just so you know, I always had a crush with him. Seeing him in a big sceen with that lazy eyes and curly hair…ngegemesin. Titik. Dan yang membuat film ini bahkan lebih perfect adalah chemistry Rahardian dan Acha Septriasa. They’re cute couple, and we do believe in them in the big screen. Dan gue berani bilang, this is Acha’s best performance. Peningkatan akting dari ketika pertama gue nonton dia di Heart jauh banget terasa. Lalu di sisi ‘antagonis’ ada Renata Kusmanto. Gue suka penjiwaan dari karakternya. Dalam film lain dan di tangan sutradara lain, karakter Shanti mungkin bisa dibuat terlihat sebagai evil bitch. Tapi disini gue ga ngerasakan hal itu. Gue sebagai penonton malah merasakan betapa miserable dan kesepiannya dia. Dari sisi pemain pendukung, seperti yang gue singgung di atas, menurut gue kadar komedinya kurang nendang ketika dibandingkan dengan akting Reza, pengecualian untuk Oon Project Pop, yang bahkan dengan appereance-nya (tanpa bermaksud mendiskreditkan, gue fansnya Project Pop, lho) saja sudah menimbulkan tawa. Pun, kekurangan dari film ini, yang lumayan mengganjal di gue hanyalah masalah penggunaan bahasa sunda di beberapa scene. Entahlah, sebagai seorang half breed Sunda yang gak bisa berbahasa Sunda, semestinya gak pantes juga sih gue untuk mengkritik, tapi di pendengaran gue, logat Sunda-nya terdengar kaku dan aneh.

Monty Tiwa, tak diragukan lagi, adalah salah satu sineas terbaik Indonesia saat ini. Gue terutama sangat menikmati skenario yang ditulisnya dari film Mendadak Dangdut. Juga film debutnya sebagai sutradara, Maaf Saya Menghamili Istri Anda (2007). Dalam Test Pack, dengan naskah dari Adhitya Mulya, film ini tidak lantas menjadi film konsumsi kaum hawa semata. Filmnya mengalir dengan lancar, smooth, dan semua aspek dari filmnya believable. Bikin gue senyam-senyum sendiri, dan kemudian meringis menahan tangis haru. Again, dengan tema sestandar apapun, di tangan yang tepat, sebuah film bisa menjadi sebuah masterpiece. Jelas, ini adalah salah satu film adaptasi dari novel terbaik dari Indonesia, plus jadi salah satu film terbaik tahun ini. Undeniable.

 Overall, terkadang dalam hidup seseorang mungkin terlihat begitu wow, terlihat begitu sempurna. Namun, setiap relationship memiliki masalah sendiri. Begitu pula dalam sebuah kehidupan pernikahan, apakah benar anak adalah sebuah elemen terpenting di dalamnya, yang tanpa kehadirannya akan membuat pernikahan itu menjadi tak berarti? Ketika tuntutan masyarakat yang membuat panas telinga, setiap ditanya “Kapan punya anak?” menjadi begitu mengganggu. Lalu, jikalau ternyata salah satu dari pasangan tidak mampu memberikan keturunan, apakah pasangan itu cacat, dan bisa dengan mudah disingkirkan? Lagi-lagi kembali ke sebuah pertanyaan penting : Apakah cinta saja cukup? Well, sebagai seorang yang skeptis, buat gue, tentu saja tidak (dan akan gue hentikan disini sebelum review ini berubah menjadi sesi curhat). Tapi ada banyak moment, bahkan untuk seorang gue, yang membuat hati trenyuh, sampai  gue berteriak frustasi dalam hati, “Bunuh gue sekarang!” Really, it’s a heartwarming. You have to watch it on theatres near you, terlebih, buat orang-orang yang masih menilai film ini dari judulnya (lame!), like, right now!

Aside

Behind The Scen…

10 Sep

Behind The Scene of Topher’s Trilogy

Pertama-tama, gue mau meminta maaf, tapi berhubung gue sangat senang karena gue berhasil menulis trilogy cerpen gue dengan sambutan yang lumayan buat penulis amatir seperti gue, gue jadi kepengen membagi cerita di belakang layar dan hal-hal yang menginspirasi gue dalam menulis Jeritan Tanpa Suara, Rebirth, dan Porcelain Doll. Dan tanpa berbasa-basi panjang lagi, I’m going to start now.

• Awalnya gue malah lebih dulu terpikir ide cerita Porcelain Doll, gara-gara mendengar lagu Big Bang – Ego (Japanese Version)

Interpretasi gue pas mendengar lagu ini adalah seorang cewek yang terlihat sangat normal, dan ternyata adalah seorang psycho. Maafkan gue, GD-oppa, karena imajinasi liar gue dengan lagu itu. Tapi malah membuat gue ingin menulis awal mula mengapa sang gadis cantik ini menjadi seorang psycho.

• Ide untuk membuat ketiga cerpen itu saling berhubungan datang dari sahabat gue, Merista Kalorin, yang setelah membaca draft awal Rebirth merasa kurang ‘dapet’ sisi thrillernya. And I agreed that, Rebirth tidak punya ‘nyawa’ di draft pertama. And I’m very thanks to her. Thank you, Mer :”) *hugs*

• Setting cerpen JTS sangat terinspirasi dari film Drive (2011) yang disutradarai oleh Nicolas Winding Refn dan dibintangi oleh Ryan Gosling dan Carey Mulligan. Gue berharap sih, JTS punya ‘nyawa’ yang sama dengan Drive : semakin banyak darah bececeraan, semakin romantis (ngarepdotkom, siapa gue dibandingin ama Refn, heheh). This is my love letter to Refn for honor his masterpiece movie.

• Sementara untuk tokoh sentralnya, Topher, gue sangat terinspirasi dengan tokoh Driver dari Drive, yang diperankan Ryan Gosling. Darisana gue ingin membuat versi ‘driver’ yang seorang psycho yang manis dan tak terlihat berbahaya.

 

 

 

 

 

 

 

Sementara tokoh Kim, di JTS, adalah gue sendiri. Bukan Carey Mulligan. Walau kami mirip bagai pinang dibelah…berjuta-juta kali.

• Sementara ide cerita Rebirth adalah interpretasi gue dari lagu Avenged Sevenfold – A Little Peace of Heaven, sementara ide memasukkan unsur italian cuisine sangat terpengaruh dari novel Anthony Capella – The Food of Love.

So yea, Rebirth is my another love letter for The Rev, who wrote the song perfectly, and also signor Capella, for making me so fall into italian cuisine. Visiting Italy surely is in my bucket list.

 

 

 

 

• Riset untuk Rebirth lumayan menyita waktu, karena gue sangat ingin detail soal ini. Restoran tempat Nick kerja, sampai ke masakan yang dibuat, benar-benar ada.

Coco Pazo Restaurant, Chicago

 

 

 

 

 

 

 

Sam Talbot

•Inspirasi tokoh Nick yang seorang chef bukan, sekali lagi, bukan dari Chef Juna. Secara fisik, inspirasi chef Nick adalah chef Sam Talbot (Top Chef season 2) dan chef Michael Voltaggio  (winner Top Chef season 6). Google them. They’re so handsome. :3

Michael Voltaggio

 

 

 

 

 

 

 

• Dan untuk Porcelain Doll, ide awalnya memang dari lagu BigBang – Ego, tapi gue membangun dark mood dari lagu-lagu Muse di album Absolution, terutama Stockholm Syndrome. Karena gue kepengen ada rasa ‘depresi’ yang dirasakan pembaca ketika membaca PD. Mudah-mudahan sih sukses, hehe.

• Secara penampilan, gue membayangkan Christy versi bule dari Park Bom dari 2ne1. She looks like a real porcelain doll with mystical eyes. Karakterisasi tokoh Christy dewasa adalah sepenuhnyaa hasil pengembangan gue setelah membaca Grotesque – Natsuo Kirino berulang kali. A very depressing novel. Trust me.

So that’s all, my own behind the scene.

Review : We Need To Talk About Kevin – ” a Parenthood Nightmare “

30 Aug

WE NEED TO TALK ABOUT KEVIN

Director : Lynne Ramsay
Screenplay : Lynne Ramsay and Rory Stewart Kinnear based on novel by Lionel Shriver
Cast : Tilda Swinton, John C. Reilly, Ezra Miller

Menjadi seorang ibu adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup gue, yang tak akan gue tukar dengan segenggam berlian atau emas batangan. Kids loving you unconditionally. And you will loving them unconditionally too. No matter what, anak adalah versi mini dari kita. Ada sebuah ikatan batin yang terjadi. Namun nyatanya, banyak juga para ibu yang tidak merasakan ikatan ini terhadap buah hatinya sendiri. Hal inilah yang diangkat oleh Lionel Shriver dalam novel berjudul We Need To Talk About Kevin yang kemudian divisualisasikan oleh Lynne Ramsay dalam film berjudul sama.

Penyuka drama dengan tema yang tidak umum? Berarti We Need To Talk About Kevin mungkin wajib masuk dalam watchlist. Hehe, sebenernya gue udah lumayan lama mewajibkan diri sendiri untuk menonton film ini. Tayang pertama kali pada 12 Mei 2011 di Cannes, dan kemudian rilis secara terbatas tanggal 13 Januari 2012, film ini memang bukan jenis film yang akan dilirik penonton kebanyakan. Sebuah film berbudget kecil, dengan pemain-pemain yang tidak familiar dan menarik penonton kebanyakan. Namun toh kualitasnya tidak sekecil budgetnya. Menurut gue ini bahkan adalah salah satu film yang sangat kompleks dan memiliki cerita berlapis. Dan ya, menimbulkan kontroversi yang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan (okay, kalimat barusan mulai mirip sama acara infotainment).

Film ini mengambil sudut pandang Eva Khatchadourian (Swinton), seorang ibu dimana anaknya Kevin (Miller) adalah pelaku pembantaian di SMAnya. Sejak Kevin lahir, Eva tidak bisa merasakan suatu ikatan emotional ibu-anak terhadap Kevin sebagaimana lazimnya ibu pada umumnya. Eva sendiri malah merasakan ada suatu kejanggalan terhadap Kevin, hal yang malah dianggap normal oleh suaminya, Frank (C. Reilly). Alur filmnya sendiri maju-mundur. Namun, sepanjang durasi 112 menit, kita akan disuguhkan sebuah drama yang mencekam dan mencengangkan.

Begitu banyak review positif dari film ini sendiri. Situs Rotten Tomatoes memberikan rating 76% “Certified Fresh”, dan Roger Ebert memberikan bintang 4/4 bahkan menjulukinya sebagai “Masterful Film”. Dan karena ini review gue, ijinkanlah gue untuk membahas film ini, kalau perlu sampai ke tiap lapisannya, dan gue jamin, kalau kalian penikmat film seperti ini, We Need To Talk About Kevin tidak akan mengecewakan.

Sebelumnya, maafkan gue, tapi gue bahkan belum pernah mendengar nama Lynne Ramsay sampai film ini masuk daftar buruan gue (Shame on me!!!). Praktis, ini adalah film pertama Ramsay buat gue. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Filmnya sejak awal sudah menawarkan aura depresi dan mencekam, dengan tone berwarna hitam dan merah. Terutama scene awal, ketika Eva sedang berpesta di La Tomatina, sebuah festival melempar tomat di Spanyol. Belum pernah gue merasa begitu jijik melihat lautan manusia yang sedang berenang di dalam kubangan berton-ton tomat hancur. See? Bahkan festival yang mestinya penuh dengan euphoria positif terlihat begitu depresi di bawah arahan Lynne Ramsay. Belum lagi ditambah dengan musik scoring yang mencekam, gue bisa mendengar sendiri suara detak jantung gue yang bertalu-talu. It’s a chilling sensation. Superb.

Hal ini makin diperkuat dengan akting menawan dari Tilda Swinton. Gue pertama kali mengenal Swinton sebagai White Witch di Narnia Chronicle, yang menurut gue berakting paling menawan. Di film ini akting Swinton-lah tiang penopang dan kunci kesuksesannya. Aktingnya sebagai ibu yang depresi dan dikucilkan oleh lingkungannya karena menjadi ibu dari seorang pembunuh membuat gue begitu trenyuh. Dan justru dengan penggunaan format alur maju mundur, Swinton sangat berhasil menyampaikan beribu emosi kepada penonton (dalam hal ini adalah gue). Dalam diamnya atau tatapan matanya, kita bisa merasakan rasa frustasi sekaligus penyesalannya terhadap Kevin. Di sisi lain, sebagai Kevin remaja ada Ezra Miller dan Jasper Newell yang memerankan Kevin cilik. Akting keduanya lumayan bisa mengimbangi Swinton. Tatapan mata penuh kebencian dari Kevin cukup membuat orang tua manapun menggigil ketakutan dan berdoa agar anak mereka tidak seperti itu. Ada satu scene dari Kevin versi Miller yang membuat gue sampai saat ini bergidik. Akting yang mengerikan.

Dari beberapa komentar, ada yang beranggapan Kevin adalah seorang pure evil. Menurut gue itu tidak mungkin. He’s not an evil. Kevin is a sociopath, has a level zero of empathy, and also born as a manipulator. Dan kemungkinan ini diperburuk oleh rasa frustasi dan ketidaksiapan Eva untuk memiliki Kevin sejak awal (believe me, Baby Blues Syndrome is not a hoax) dan juga Franklin, suami Eva, dimana disini mewakili bangsa Amerika Serikat dengan rasa optimisme yang berlebihan. Dan menurut gue, alasan Kevin membantai teman-teman dan keluarganya, dengan hanya menyisakan ibunya, adalah bentuk rasa sayangnya kepada Eva. Kevin, in his own (sick) way, is loving his mother. Dengan ending yang indah tanpa perlu berlebihan, dan sekaligus meng-capture semua emosi dari Eva. Overall, tak ada ibu yang tak mencintai anaknya. Mau seperti apapun, a mother will always love and accept their children, without any condition. Like I said earlier, being a mother it’s an unconditional love.

We Need To Talk Kevin surely will be talked for years, for its creepy, thrilling, and chilling sensation, and also a bit controversy theme. It’s not an easy movie for me. For me, it’s a nightmare for every parenthood and maternity around the world.

“There’s no point. That’s the point.”

Official Trailer :

Porcelain Doll

24 Aug

Aku menatap keluar dari jendela. Pemandangan ini selalu membuatku bergidik sekaligus kagum. Danau itu seolah memanggilku untuk berenang ke dalamnya, di bawah naungan pohon beringin tua, yang akar-akarnya mencuat keluar dari tanah seperti tangan-tangan raksasa. Suasananya begitu khidmat. Sekaligus mistis.

Terdengar suara gemersik dibelakangku. Aku berbalik dan mengibaskan rambut panjangku yang berwarna coklat. Dan menatapnya. Menatapnya perlahan terbangun dari tidurnya.

Perasaanku membuncah. Tusukan rasa sakit menghujam hatiku, yang kukira sudah mati rasa. Aku tak kebal oleh rasa sakit, ternyata. Kukira aku sudah terbiasa, sudah menerima bahwa ini adalah bagian dari hidupku. Nyatanya tidak.

“Kalau boleh aku bertanya, mengapa kau membiusku dan mengikatku disini?”, tanyanya tenang. Tak ada tanda-tanda kepanikan. Ketakutan. Yang biasanya akan selalu muncul pada manusia normal manapun. Apapun itu.

Aku mengikat rambut panjangku lalu duduk di sebelahnya. “Ada hal yang ingin kupastikan darimu, Ayah.”

Sebuah senyum manis tersungging di bibirnya. “Sudah kuduga, hari ini akan datang.”

“Sudah kauduga?” Aku merasa marah. Dia sudah menduga aku akan memperlakukannya seperti dia memperlakukan korban-korbannya? Tidak. Korban bukanlah kata yang tepat. Penjahat. Orang yang pantas dihukum.

Dia hanya tertawa kecil. Tawa kecilnya, yang telah menemaniku selama 12 tahun terakhir. Sejak mengenalnya di taman apartemen kumuh tempatku tinggal bersama ibuku, sebelum dia menghilang dari hidupku selamanya.

Mataku tersengat hawa panas ketika mengingatnya. Selapis air mata meliputi mataku. Ayah hanya tertegun lalu berkata pelan, “Sudah lama kau tak menangis, Christy.”

Aku menggelengkan kepala, berharap air mata itu hilang. “Ada yang ingin kutanyakan padamu, Ayah. Kuharap kau menjawabnya dengan jujur.”

Ayah menatapku dengan sinar mata yang tak dapat terbaca lalu kemudian menggumam, “Baiklah”.

Aku menarik nafas panjang. “Jelaskan padaku, mengapa kau menghukum Nick?”

“Karena dia pantas mendapatkannya.”

“Memangnya apa yang dia lakukan, hah?!”, teriakku marah. Aku nyaris tak pernah marah. Tak pernah ada emosi yang bergejolak tergambar di wajahku. Itulah mengapa semua orang memanggilku boneka porselen.

Rahangnya mengeras ketika ia menjawab, matanya terlihat dingin, “Pertama, karena dia sudah terlalu sering membahayakan kita. Dia terlalu emosional.”

Aku meringis. Ya, Nick memang mudah tersulut amarah. Bahkan caranya menghukum penjahat berbeda dengan Ayah. Ayah sangat rapi. Sangat terorganisir. Apapun yang dilakukannya terencana dengan matang. Sementara Nick sangat mudah terdorong suasana hati. Dan berantakan. Darah merah berbau amis membasahi tubuhnya, hingga membanjiri seluruh lantai adalah pemandangan yang biasa kulihat darinya. Aku ingat menghabiskan hari liburku hanya untuk membersihkan dan memastikan tak ada jejak darah tersisa di lantai dan dinding. Bau amin darah dari pori-pori tubuhku tak bisa hilang, tak peduli berapa kali aku menggosokkan sabun ke tubuhku.

“Tapi dia baik, Ayah. Tanpa dia, kita tidak mungkin punya tempat eksekusi sebagus dan seterpencil ini. Aku menyayanginya.”, jawabku dengan suara bergetar. Ya, pondok kayu ini, dengan danau besar dan pohon beringin adalah miliknya. Aku ingat terakhir kali dia disini. Kami menghabiskan waktu mengambang di danau, menatap langit dengan sinar matahari yang merembes melalui dedaunan yang hijau dan lebat.

Ayah mendengus, “Tentu saja kau menyayanginya. Kalian berciuman seperti sepasang kekasih bodoh. Menjijikkan.”

Aku menjerit marah lalu meraih pisau besar di atas meja dan menyabetkannya ke tubuh Ayah. Ayah mendesis kesakitan ketika sebuah luka terbuka di dadanya dan darah mengalir dan membasahi plastik. “Kau tak punya hak mengatakan itu!”

“Tentu saja aku punya. Aku ayahmu. Aku penciptamu. Dua belas tahun kuhabiskan waktu untuk mendidikmu, menyayangimu. Kau anakku yang cantik, hasil didikanku yang terbaik. Mana aku rela melihatmu diambil oleh Nick? Dia lebih tua darimu!”

“Memangnya kenapa kalau dia lebih tua dariku?!”, jeritku marah.

“Dua puluh tahun lebih tua adalah kejahatan, Christy! Dia akan membawamu pergi dariku! Aku hanya melakukan tugasku untuk melindungimu!”, teriaknya dengan emosi tersulut. Dia nyaris tak pernah meledak marah. Kemarahannya selalu terarah pada hasil akhir. Dan dingin.

Aku menggeleng, tahu itu tak benar. Nick tak mungkin melakukannya! “Kau hanya tidak mau kehilanganku!”

“Tentu saja! Kau anakku! Ciptaanku! Bonekaku! Aku yang berhak mengatur hidupmu!”

Pecahlah sudah tangisku. Sudah lama aku tak menangis seperti ini lagi. Kenangan itu mengiris hatiku. Lgi dan lagi. Seringai Nick kapanpun dia sedang senang. Sosoknya ketika sedang memasak. Rambut pirangnya yang terkena sinar matahari. Bulu mata indahnya yang panjang menyapu pipi atasnya ketika ia menutup mata. Tubuh indahnya. Seluruh eksistensinya. Aku sadar betapa aku merindukannya.

“Cinta adalah hal bodoh yang tak pernah ada, Christy. Itu hanyalah sebuah khayalan. Hal yang tidak nyata. Jangan biarkan dirimu tersakiti oleh hal seperti ini.”, katanya pelan ketika akhirnya aku mengusap air mata dari pipiku.

Aku merasakan kebencian yang mendalam melihatnya. Tahu apa dia? Dengan penuh perhitungan aku menghujamkan pisauku ke sisi tubuhnya. Aku tahu aku menusuk paru-parunya. Dia akhirnya menjerit kesakitan.

“Tenanglah, Ayah. Pengadilan belum selesai. Sampai aku selesai menuntut jawaban darimu, aku tak akan menghabisimu.”

Ayah meronta kesakitan dan tubuhnya bergerak-gerak kencang. Aku sempat khawatir dia akan terjatuh dari meja stainless besar ini dan ikatannya terlepas. Kekhawatiran bodoh, sebenarnya. Dia mengajariku dengan baik tentang semua yang ia ketahui tentang cara membunuh. Dan juga penyiksaan. Aku muridnya yang terbaik.

Ayah lalu tertawa getir menahan sakit. “Ya Tuhan, apa yang telah kuciptakan?”, tanyanya pada diri sendiri. “Aku tak pernah mengajarimu menyiksa seperti ini. Semua penjahat itu tahu apa kesalahan mereka. Aku tak pernah memaksa mereka mengakui apa yang mereka lakukan. Kau lebih sakit dibandingkan denganku, Christy. Di balik wajah cantik tanpa ekspresimu itu bersembunyi seekor monster. Aku bahkan tak pernah melihat ini sebelumnya. Kau menyembunyikannya dengan sangat baik.”

“Terima kasih, Ayah. Kau mengajariku dengan baik.” Aku bisa mendengar suaraku sendiri dengan tenangnya menjawab hinaannya. Dia yang akan berakhir jadi mayat, bukan aku. Dia ketakutan. Dia bisa mengatakan apapun yang ingin dikatakannya.

“Ada hal penting lain yang ingin kuketahui. Katamu, cinta adalah omong kosong tak nyata. Lalu, mengapa kau mengambilku dan meperlakukanku sebagai anakmu? Kau selalu bilang kau menyayangiku, tapi kita tahu itu bohong. Apa bagimu aku ini hanya sebuah boneka cantik untuk dipajang di atas perapian?”

Wajahnya lalu pias, pucat mendengar pertanyaanku. Dia tak menyangka aku akan pernah bertanya tentang ini.

“Ada satu hal yang selalu kusembunyikan darimu selama ini. Ini mengenai ibumu.”

Tubuhku menegang seketika. Ini mengenai Momma, yang menghilang tanpa jejak. Hanya meninggalkan seuntai liontin berisi fotoku yang selalu dipakainya. Tak pernah dilepaskannya.

“Liontinnya…” Aku menyentuh liontin kuno yang tergantung di leherku. Aku ingat ketika Momma tak jua kembali, ayah datang dan memberiku liontinnya. Katanya Momma menitipkannya untukku, tanpa memberitahu dia akan pergi jauh. Seketika aku sadar, apa yang telah disembunyikan ayah selama ini.

Aku menjerit histeris ketika menyadarinya. Kemarahanku membuncah, terasa membakar seluruh tubuhku. Aku melemparkan pisau ke seberang ruangan. Aku meraih meja dan membalikkannya dengan sekuat tenaga. Barang-barang di atas meja jatuh dengan bunyi berisik. Aku menjerit sembari mencakar-cakar pipiku sendiri. Aku mengamuk bagaikan orang yang kehilangan akal.

Momma…Momma mati dibunuh. Seharusnya aku sudah bisa menebaknya. Sejak dulu. Aku tahu Momma tidak mungkin pergi meninggalkanku sendirian.

“Kau membunuh Momma! Untuk hal yang aku sendiri tak mengerti. Dia bukan wanita murahan seperti yang selalu kau hukum! Kenapa? Kenapa kau membunuh Momma?! Kenapa kau membawanya pergi dariku?!”

Ayah meneguk ludahnya, terlihat begitu takut sekarang. Aneh. Aku tak pernah melihatnya takut atas apapun. Bahkan tidak ketika polisi menemukan kepala Becca, pelacur yang menjadi ‘korban’ pertama Nick.

Aku mendekati kepalanya, mencengkram kepalanya dengan kedua tanganku, memaksanya menatapku. “Lihat aku, Ayah. Kalau kau tak berhenti mengalihkan pandanganmu dariku, aku bersumpah, aku akan menggunting kelopak matamu.”

Akhirnya dia berhenti bergerak dan menatapku. Tatapan matanya layu sekarang. Kelelahan dan kesakitan. Tubuhnya sudah lengket dengan darah yang membasahi plastik pembungkus.

“Bolehkah aku memohon ampunanmu, Christy?”

“Mengapa kau membunuh Momma, Ayah?!” Aku bisa merasakan rasa perih di pipiku, suaraku serak. Namun setelah amukan barusan, anehnya aku merasa sedikit tenang.

Ayah menghela nafas untuk menahan sakit. Ketika ia berbicara, suaranya bergetar, “Belum pernah aku merasa menyesal seumur hidupku, Christy. Ayahku selalu mengajarkanku untuk percaya, bahwa mereka memang pantas dihukum. Pelacur. Mereka hanya bisa menyakiti perasaan kita. Tak seharusnya mereka dibiarkan hidup.”

Suaranya menghilang sejenak digantikan oleh lenguhan penuh rasa sakit. Kemudian ia berbicara lagi, ” Ibumu berbeda. Hidup telah mengkhianati dan menyakitinya, tapi dia bisa dengan mudahnya mengangkat dagu dan menghadapi dunia. Dia dengan begitu naifnya, mengira dunia ini berisi kebaikan. Begitu bodohnya…”

“Aku merasakan hal yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku menyayanginya. Juga dirimu. Aku kadang kaget sendiri, membayangkan diriku memeluknya. Mencincang tubuh orang yang menyakitinya. Namun, ketika aku melihatnya memeluk seorang pria di dalam. Mobil, aku marah. Aku tahu, ternyata dia tak jauh beda dengan pelacur-pelacur lainnya. Aku cemburu. Aku mencekiknya hingga mati.”

Tetesan air mata mengalir lagi dari mataku ketika mengingat Momma. Aku sudah lupa seperti apa wajahnya. Kenangan tentangnya makin buram seiring dengan berlalunya waktu. Tapi aku masih bisa mengingat pelukan hangatnya. Tawa merdunya ketika aku mengatakan sesuatu yang lucu.

“…Hal terakhir yang ia pinta dariku adalah untuk tidak membuatmu menjadi seperti diriku. Dia tak keberatan mati di tanganku, selama aku tak menyakitimu. Aku sadar telah melakukan kesalahan fatal ketika teman ibumu itu datang mencarinya.” Ayah tertawa masam ketika mengingatnya, “Bayangkan, pria tampan keturunan latin yang ternyata seorang homo. Aku membunuhnya juga, tentu. Dia mencurigaiku. Aku dalam bahaya besar. Dan aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku karena membunuh ibumu sejak saat itu.”

“Lalu kenapa, kenapa kau tak melepaskanku? Kenapa kau menyeretku ke dalam semua kegilaanmu? Tak sadarkah kau, bahwa aku mungkin saja bisa hidup normal?”

Ayah menatapku dengan sinar mata lembut. Sinar mata yang membuatku selalu merasa aman, tak peduli bahkan ketika saat itu dia baru saja memotong kepala seseorang di depan mataku. “Karena kau mengingatkanku pada dirinya. Seolah dia masih ada disini, menatap kita berdua dengan ketakutan, tapi tak pernah pergi menjauh.”

Dan begitulah, beberapa bulir air mata mengalir dari mata birunya. Aku mengelap pipinya yang basah lalu mengecup bibirnya.

Ayah menatapku lama kemudian tersenyum lemas dengan wajahnya yang pucat pasi, “Aku tak menyesal menghabisi Nick. Aku tak peduli bahkan kalau kau akan mencincangku hidup-hidup. Dia memang pantas mati. Dan aku tak akan berteriak ketakutan memohon ampunanmu. Aku tahu, aku pantas menerimanya. Aku memohon ampunanmu atas dosaku membunuh ibumu, satu-satunya wanita yang ternyata kucintai. Terima kasih, telah membuatku merasa seperti manusia normal, bisa merasakan apa rasanya menjadi seorang ayah. Aku tak menyesal telah menciptakanmu.”

Aku membelai-belai wajahnya untuk terakhir kalinya sambil menangis. “Lucu, aku tak pernah mengira bisa merasakan perasaan benci sekaligus sayang terhadap orang sama. Selamat tinggal, Ayah.”

***

Aku berenang mengambang di danau, dengan kepala menghadap ke arah langit. Menatap langit malam yang bertumpahkan bintang. Tanpa kehadiran sang bulan, malam ini merekalah sang idola dari jutaan makhluk yang menatap malam. Tanpa harus takut kalah bersinar. Bagiku, jutaan bintang itu bagaikan manusia, yang normal dan hidup tenang. Bodoh. Naif. Dan akulah sang bulan. Yang mengambil alih malam. Yang membunuh sinar mereka. Tapi di langit malam yang begitu luas, aku tetap hanya sendirian.

Aku tetaplah seekor monster yang diberkahi topeng wajah cantik. Dengan parasku, aku akan selalu berada di dalam sorotan lampu. Menjadi pusat perhatian. Tapi aku sudah terlalu rusak untuk kembali hidup normal. Bagaikan boneka porselen dengan wajahnya yang retak. Ketika kau melihatku dengan seksama, aku akan terlihat sangat menyeramkan. Tapi tidak. Aku tak berniat untuk berubah menjadi bintang, menjadi normal namun bodoh. Tidak. Hanya ini satu-satunya jalan hidup yang kutahu. Dan yang kutahu sekarang, aku sendirian. Tanpa Nick. Tanpa Ayah. Dan tanpa Momma. Sendirian. Selamanya.

~~~~

August, 22nd 2012

08.33 pm

@tyazism

Movie Review : Vertigo

16 Aug

Vertigo ( 1958 )
Director : Alfred Hitchcock
Screenplay : Alec Coppel and Samuel A. Taylor
based on novel D’enteres les morts by Boileau-Narcejac
Cast : James Stewart, Kim Novak, BarbaraBel Gedes

Ternyata definisi orang tentang film klasik atau ‘jadul’ itu berbeda-beda. Ini lucu sebenernya. Kemaren gue ngobrol sama adek gue, dan dia bercerita tentang weekend-nya yang diisi dengan nonton film di TV kabel. Menurutnya, film-film 90an terasa sangat jadul, dalam segi special effect tentu. Bahkan setelah nonton TAS, dia merasa Spider-Man sangat jadul dan special effect-nya yang terlihat kekanakan. Gue kemudian bercerita kalau tempo hari gue nonton 12 Angry Men yang notabene dibuat tahun 1957 dan berencana akan menonton Vertigo (1958). Buat dia mungkin gue terdengar aneh, kok mau-maunya nonton film jadul. Sekali lagi : beda definisi, beda pandangan, dan beda selera yang menentukan. Sah-sah aja sih, sebenernya. Kembali lagi, sebenarnya definisi film itu apa? Buat seorang penikmat awam, yang hanya menginginkan hiburan yang ia suka tanpa perlu berpikir soal tetek bengek siapa sutradara dan pemainnya, kualitas akting, maupun hal-hal artistik lain segala rupa, film jadul mungkin gak akan pernah diliriknya. Tapi buat beberapa pecinta film, film klasik adalah sebuah keharusan. Seorang sahabat gue bahkan adalah pecinta film film  Screwball Comedy yang notabene berada di sekitaran tahun 1930-1940 (era Great Depression). Jadi, mau perang urat syaraf sampai kapan pun, film adalah masalah selera pribadi yang gak bisa diganggu gugat.

Perkenalan pertama gue dengan film klasik adalah dengan Psycho (1960), sebuah karya legendaris dari master of suspence, Alfred Hitchcock. Agak riskan sebenarnya waktu itu karena medianya hitam-putih. I might ended up hating it. But I didn’t. Awalnya gue sedikit kaget dengan setting film yang begitu jadul, karena adanya sebuah gap budaya dan generasi yang begitu besar, namun setelah mengeset ulang ekspektasi, it was spectacular and beyond amazing! Jadilah, gue menjadi agak terobsesi untuk menonton semua film karya Hitchcock. Sebuah sensasi sinematik yang begitu orgasmik, buat gue setidaknya. Setelah Rear Window yang begitu artistik, rumit, dan teliti juga Rope dengan karakterisasi menawan dan long shot scene-nya yang breathtaking, this is time for Vertigo!

John ‘Scottie’ Ferguson (Stewart) adalah seorang detektif polisi yang memutuskan untuk pensiun setelah shock atas kematian partnernya, yang tak bisa ia selamatkan karena rupanya dia menderita acrophobia (fobia terhadap tempat tinggi). Hari-harinya ia jalani dengan mengunjungi teman dekatnya Midge Wood (Geddes). Suatu hari, Scottie diundang oleh kawan lamanya, Galvin Elster (Helmore) yang memintanya untuk menyelidiki istrinya, Madeleine Elster (Novak) yang bertindak sangat aneh. Scottie pun menerimanya, tanpa tahu konsekuensi apa yang harus diterimanya.

Siapa yang tidak mengenal Alfred Hitchcock? Sebagai pecinta film, at least pasti pernah dengar namanya. Beliau dielu-elukan sebagai salah satu sutradara paling jenius sepanjang masa, the Master of Suspense karena kesukaanya membesut film-film bergenre Psychological Thriller. Siapa yang bisa melupakan scene di kamar mandi di film Psycho? Salah satu scene paling memorable sepanjang masa. Bukti bahwa untuk membuat sebuah adegan sadis tidak melulu membutuhkan segalon darah palsu maupun tubuh yang terpotong. Artistik dan indah, dilihat dari segi manapun. Dan di Vertigo, Hitchcock membawa gue ke pengalaman baru yang sama sekali berbeda dengan 3 film sebelumnya, namun tetap breathtaking experience :D.

Vertigo dikenal sebagai satu dari “Five Lost Hitchcock” (bersama dengan Rear Window, The Man Who Knew Too Much, Rope, dan The Trouble With Harry) menghilang selama beberapa dekade, yang kemudian dibeli kembali oleh Hitchcock. Ketika ditayangkan, awalnya Vertigo mendapat sambutan beragam baik dari kritikus maupun penonton. Hitchcock menyalahkan Stewart yang menurutnya terlihat tua di film ini, menjadikan Vertigo sebagai kerjasama terakhir Hitchcock-Stewart. Namun setelah akhirnya direstorasi oleh Robert A. Harris dan James C. Katz dan ditayangkan ulang pada tahun 1996, sambutannya berbanding terbalik hingga 180 derajat. Kritikus mengelu-elukannya sebagai salah satu karya terbaik Hitchcock, bersanding dengan Psycho.

Di Vertigo, Hitchcock meng-capture pemandangan San Francisco dengan begitu elegan. Terasa jadul memang, tapi justru membuat gue merinding kagum dengan keelokan dan keindahan landscapenya. Akting Stewart dan Novak, sebagai tonggak utama filmnya, mengesankan. Walau jujur, gue sebenernya lebih suka dengan chemistry antara Stewart-Kelly di Rear Window, yang terlihat elegan dan classy dengan caranya sendiri. Score musiknya sendiri mencekam, dan secara tidak langsung berkolerasi dengan judul filmnya sendiri. Dan gue setuju dengan pendapat Martin Scorsese mengenai scoringnya. Rasanya seperti kita dibawa berputar-putar dalam sebuah lingkaran spiral berulang kali. Menimbulkan sensasi berputar yang menegangkan namun membuat ketagihan.

Toh, Vertigo punya kelasnya sendiri. Kedalaman karakter Scottie digambarkan secara utuh. Ketakutannya akan ketinggian, depresinya, rasa bersalahnya, juga obsesinya tak sehat akan wanita yang ia cintai. Dark, yet inviting us to watch it more and more. Dan dengan aroma sex dan kematian yang membumbui film ini (but please, don’t expect any sex scene, as this is a classic movie that had a very classy way to show the sex scent withour the scene ;p), inilah kekuatan utama dari Vertigo. Sebuah film roman sekaligus thriller yang kualitasnya sulit disamai sampai kapanpun juga.

Walau filmnya awalnya berjalan lambat, namun Vertigo secara perlahan membangun tensi ketegangan, membuat gue menebak-nebak, kemudian mementahkan tebakan tersebut. Dan ketika gue mengira filmnya sudah mencapai klimaks…ternyata gue salah besar! Kalau mau dianalogikan, menonton Vertigo rasanya bagaikan memakan rainbow cake yang tiap lapisan warnanya punya rasa yang berbeda. Dan begitu dimakan sekaligus dalam satu suapan…campuran adrenalin, rasa kagum, dan pikiran yang diaduk-aduk menjadikan sebuah pengalaman baru dalam menonton. Mengejutkan. Sekaligus membuat kita ketagihan, lagi dan lagi.

Jadi, film jadul tak selamanya membuat kita yang menonton mengalami gap budaya dan generasi yang begitu besar. Sebaliknya, untuk yang sudah terbiasa, film klasik punya kelasnya sendiri. Dimana dengan keterbatasan teknologi dibanding sekarang, justru membuktikan bahwa film bagus adalah film yang mempunya cerita yang kuat dan mendalam, yang membuat penontonnya terlena sepanjang durasi dan membuat lupa bahwa si penonton menghirup udara di tahun 2012, bukannya tahun 50an! Definitely a mind blowing from the Master of Suspence! And yes, Mr Hitchcock, thank you for blowing my mind again. I’ll wait for the next orgasms cinematic sensation from your other masterpiece. What’s next? Any idea?

Official Trailer :